Digital Marketing
Calon Klien Kamu Mungkin Nggak Menemukan Bisnismu dari Google
Cara orang menemukan bisnis kini berubah. Dari TikTok hingga AI, customer journey makin tersebar. Lalu, di mana posisi website di dalamnya?
26 Agustus 2026 · Rafly
Cara orang menemukan, mengenal, dan mempertimbangkan sebuah bisnis kini semakin tersebar di banyak platform.
Dulu, ketika seseorang membutuhkan sebuah produk atau jasa, salah satu kebiasaan yang paling mudah dibayangkan adalah membuka Google, mengetik kebutuhan mereka, lalu memilih salah satu hasil pencarian.
Sekarang, jalurnya bisa jauh lebih panjang.
Seseorang bisa menemukan sebuah brand lewat TikTok. Kemudian membuka Instagram untuk melihat portofolionya. Mencari nama bisnis tersebut di Google untuk memastikan informasinya. Menghubungi WhatsApp untuk bertanya. Atau bahkan menggunakan AI untuk mencari dan merangkum informasi sebelum mengambil keputusan.
Bukan berarti Google kehilangan perannya.
Yang berubah adalah customer journey-nya.

Indonesia sudah menjadi pasar digital yang sangat besar
Perubahan ini terjadi di tengah ekosistem digital Indonesia yang memang semakin luas.
Menurut Digital 2026: Indonesia dari DataReportal, terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025, dengan tingkat penetrasi internet mencapai 80,5% dari populasi.
Pada periode yang sama, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia. Angka tersebut setara dengan 62,9% dari total populasi.
Platform sosial juga memiliki jangkauan yang sangat besar. Data dari tools periklanan platform menunjukkan bahwa Instagram memiliki potensi jangkauan iklan sekitar 108 juta pengguna di Indonesia, sementara TikTok melaporkan jangkauan iklan sekitar 180 juta pengguna dewasa pada akhir 2025.
Perlu dicatat, angka tersebut merupakan advertising reach, bukan berarti seluruhnya adalah pengguna aktif bulanan. Namun skalanya tetap menunjukkan satu hal penting:
Bisnis tidak lagi hanya ditemukan melalui satu pintu digital.

Dari search menjadi discovery
Perbedaan paling menarik ada pada cara seseorang memulai pencarian.
Google bekerja sangat baik ketika seseorang sudah mengetahui apa yang mereka cari.
Misalnya:
“jasa konsultan pajak Jakarta”
“software house Indonesia”
“vendor training K3”
Tetapi discovery bisa terjadi jauh sebelum seseorang mengetik kata kunci tersebut.
Mereka mungkin melihat video sebuah brand di TikTok.
Menemukan portofolio di Instagram.
Melihat sebuah konten dibagikan oleh orang lain.
Atau sekadar mengenali nama sebuah bisnis setelah beberapa kali muncul di feed mereka.
Dari sini, perjalanan digital tidak lagi selalu berbentuk:
Search → Website → Contact
Melainkan bisa menjadi:
Discover → Explore → Validate → Contact
Dan setiap tahap bisa terjadi di platform yang berbeda.

Lalu, apakah website jadi kurang penting?
Justru tidak.
Ketika informasi tentang sebuah bisnis tersebar di banyak platform, website memiliki fungsi yang semakin jelas: menjadi pusat informasi yang bisa dikontrol oleh brand itu sendiri.
Social media bagus untuk mendapatkan perhatian.
Google membantu orang menemukan atau memvalidasi informasi.
WhatsApp mempermudah percakapan.
Tetapi ketika calon customer ingin memahami bisnis secara lebih lengkap, website bisa menjadi tempat mereka mengumpulkan semua informasi tersebut.
Siapa bisnisnya?
Apa yang mereka tawarkan?
Siapa yang pernah menggunakan jasanya?
Bagaimana cara kerjanya?
Apa saja layanan yang tersedia?
Dan yang paling penting:
Apa langkah berikutnya kalau saya tertarik?
Di sinilah website bekerja.
Website bukan lagi satu-satunya touchpoint
Kesalahan yang sering terjadi bukan karena sebuah bisnis memiliki website yang kurang bagus.
Masalahnya adalah website tersebut berdiri sendiri.
Instagram mengatakan satu hal.
Google Business Profile memberikan informasi lain.
Website tidak diperbarui.
WhatsApp menggunakan informasi yang berbeda.
Akhirnya customer harus menyusun sendiri potongan-potongan informasi tersebut.
Padahal setiap touchpoint seharusnya membawa customer ke arah yang sama.
Misalnya:
TikTok
Membuat orang mengenal brand.
↓
Instagram
Memberikan konteks dan menunjukkan social proof.
↓
Google
Membantu customer memvalidasi keberadaan dan reputasi bisnis.
↓
Website
Memberikan informasi yang lebih lengkap dan terstruktur.
↓
WhatsApp
Mengubah ketertarikan menjadi percakapan.
Tidak semua bisnis membutuhkan alur yang persis seperti ini. Tetapi prinsipnya sama:
Setiap platform punya pekerjaan yang berbeda.
The digital ecosystem matters
Karena itu, pertanyaannya sekarang bukan:
“Website atau social media?”
Pertanyaan yang lebih relevan adalah:
“Apakah semua digital touchpoint bisnis saya bekerja bersama?”
Website tetap penting.
Social media juga penting.
Google tetap penting.
WhatsApp tetap penting.
Yang berubah adalah bagaimana semuanya saling terhubung dalam perjalanan customer.
Bisnis yang kuat secara digital bukan selalu bisnis yang hadir di semua platform.
Melainkan bisnis yang mampu membuat setiap platform memiliki fungsi yang jelas, memberikan informasi yang konsisten, dan memudahkan customer berpindah dari “pernah lihat” menjadi “percaya”, lalu akhirnya “ingin menghubungi.”
The takeaway
Customer journey tidak lagi punya satu pintu masuk.
Mereka bisa menemukan bisnis dari mana saja.
Karena itu, membangun digital presence bukan sekadar soal “punya Instagram” atau “punya website.”
Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh touchpoint tersebut bekerja sebagai satu ekosistem.
Discover anywhere.
Understand everywhere.
Convert somewhere that you control.
Itulah kenapa website masih punya tempat penting dalam strategi digital modern.
Bukan sebagai satu-satunya tujuan.
Tapi sebagai bagian dari ekosistem yang bekerja bersama.
Sumber:
DataReportal, Digital 2026: Indonesia, berdasarkan data dan sumber yang tersedia hingga Oktober 2025, termasuk Kepios, Google, Meta, TikTok, dan sumber industri terkait.
