Business
Meta Ingin Mengganti Banyak Pekerjaan dengan AI. Lalu Rencana Itu Mulai Berantakan.
Meta ingin membangun perusahaan yang lebih kecil, lebih cepat, dan jauh lebih bergantung pada AI.
31 Agustus 2026 · Rafly
Meta ingin membangun perusahaan yang lebih kecil, lebih cepat, dan jauh lebih bergantung pada AI.
Rencana tersebut bahkan mempertimbangkan pengurangan ukuran sejumlah tim hingga 60%, dengan pekerjaan rutin dialihkan kepada AI agents dan kelompok karyawan yang lebih kecil. Namun beberapa bulan setelahnya, rencana itu justru mulai berantakan. Produktivitas AI tidak memenuhi ekspektasi, karyawan melakukan perlawanan, muncul persoalan keamanan, dan Meta akhirnya membatalkan sebagian besar restrukturisasi lanjutan yang direncanakan.
Kisah Meta menunjukkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar apakah AI akan menggantikan pekerjaan.
Mungkin masalahnya bukan AI-nya. Mungkin perusahaan terlalu cepat mengubah cara kerjanya sebelum teknologinya benar-benar siap.
Apa yang sebenarnya terjadi di Meta?
Pada awal 2026, Mark Zuckerberg dan jajaran pimpinan Meta memperkenalkan sebuah rencana bernama Project OT, singkatan dari Organization Transformation.
Visinya cukup radikal: Meta ingin menjadi perusahaan yang AI-native, dengan AI agents mengambil alih sebagian pekerjaan rutin yang sebelumnya dilakukan oleh ribuan karyawan.
Dalam skenario internal yang dilaporkan Reuters, beberapa tim bahkan dipertimbangkan untuk dipangkas hingga 60%. Struktur organisasi juga akan diubah menjadi kelompok-kelompok kecil atau pods yang dibantu AI.
Meta kemudian memang melakukan pengurangan sekitar 10% tenaga kerja global pada Mei 2026, sementara sekitar 7.000 karyawan dipindahkan ke tim yang berfokus pada AI.
Namun rencana tersebut tidak berjalan mulus.
Mengapa rencana AI Meta mulai berantakan?
Masalah utamanya bukan satu hal.
AI agents belum memberikan peningkatan produktivitas sebesar yang diharapkan.
Dalam pertemuan internal pada Juli, Zuckerberg mengakui bahwa perkembangan teknologi agentic AI berjalan lebih lambat dari ekspektasi dan restrukturisasi organisasi yang dilakukan belum menghasilkan dampak seperti yang diharapkan.
Reuters kemudian melaporkan bahwa berbagai masalah muncul dalam implementasi AI Meta, termasuk persoalan reliability dan security pada coding tools dan AI agents.
Di saat yang sama, karyawan menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan pekerjaan mereka.
Meta bahkan sempat menggunakan software yang memantau aktivitas digital dan pergerakan mouse karyawan untuk membantu pengembangan AI. Program tersebut kemudian dihentikan sementara setelah muncul persoalan keamanan dan privasi.
Masalahnya menjadi semakin kompleks.
Perusahaan sedang meminta manusia untuk bekerja dengan AI, sementara sebagian manusia tersebut juga khawatir AI sedang dipersiapkan untuk menggantikan mereka.
Meta akhirnya membatalkan sebagian rencana tersebut
Salah satu bagian paling menarik dari cerita ini adalah perubahan arah Meta sendiri.
Setelah melakukan pemangkasan sekitar 10% tenaga kerja pada Mei, perusahaan akhirnya membatalkan gelombang restrukturisasi berikutnya yang sebelumnya direncanakan.
Reuters melaporkan bahwa Meta membatalkan gelombang kedua tersebut pada malam sebelum pelaksanaannya.
Meta kemudian menggeser narasi dari AI sebagai alat untuk menggantikan tenaga kerja menjadi AI sebagai alat untuk memberdayakan karyawan.
Ini bukan berarti Meta berhenti berinvestasi pada AI.
Justru sebaliknya.
Meta memperkirakan akan menginvestasikan lebih dari US$130 miliar pada infrastruktur AI pada 2026.
Jadi yang berubah bukan ambisinya terhadap AI.
Yang berubah adalah cara AI diterapkan ke dalam organisasi.
Apakah ini berarti AI gagal menggantikan manusia?
Belum.
Kasus Meta tidak membuktikan bahwa AI tidak mampu menggantikan pekerjaan manusia.
Yang ditunjukkan kasus ini adalah bahwa mengotomatisasi pekerjaan jauh lebih rumit daripada sekadar memiliki model AI yang pintar.
Sebuah pekerjaan biasanya terdiri dari banyak hal:
memahami konteks,
mengambil keputusan,
berkoordinasi dengan orang lain,
menangani kasus yang tidak biasa,
menjaga keamanan,
memahami tujuan bisnis,
dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya.
AI mungkin mampu mengerjakan satu bagian dari proses dengan sangat baik.
Namun jika seluruh workflow belum dirancang ulang, otomatisasi satu bagian belum tentu membuat keseluruhan sistem menjadi lebih produktif.
Masalah terbesar mungkin bukan AI. Tapi workflow.
Bayangkan sebuah perusahaan menggunakan AI untuk membuat laporan.
Secara teori:
Data → AI → Report
Namun kenyataannya bisa menjadi:
Data → Cleaning → Verification → AI → Human Review → Revision → Approval → Report
Jika perusahaan hanya mengotomatisasi bagian tengah, tetapi enam langkah lainnya tetap manual, penghematan waktunya mungkin tidak sebesar yang dibayangkan.
Inilah mengapa implementasi AI tidak cukup dengan membeli tools.
Perusahaan perlu mendesain ulang workflow.
Meta sendiri mencoba mengubah struktur organisasi melalui tim yang lebih kecil dan AI-augmented workers. Namun ketika teknologi dan organisasi berubah secara bersamaan, kesalahan desain dapat menjadi jauh lebih mahal.
Ada pelajaran penting untuk perusahaan yang lebih kecil
Menariknya, perusahaan tidak harus sebesar Meta untuk menghadapi masalah yang sama.
Banyak bisnis sekarang mulai menggunakan AI untuk:
customer service,
marketing,
coding,
research,
sales,
administrasi,
content production,
dan data analysis.
Pertanyaan yang sering muncul adalah:
“AI apa yang harus kami gunakan?”
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Bagian mana dari workflow kami yang sebenarnya perlu diubah?”
Menggunakan lima tools AI sekaligus tidak otomatis membuat perusahaan lima kali lebih produktif.
Bahkan bisa terjadi sebaliknya.
Lebih banyak tools berarti lebih banyak sistem, lebih banyak data yang harus dipindahkan, dan lebih banyak proses yang harus diawasi.
AI mungkin tidak menghilangkan pekerjaan. AI mengubah bentuk pekerjaan.
Ada perbedaan besar antara:
AI menggantikan pekerjaan
dan
AI mengambil alih sebagian tugas dalam sebuah pekerjaan.
Seorang marketer, misalnya, mungkin tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuat variasi copy.
Namun pekerjaan tersebut tidak otomatis hilang.
Waktu yang sebelumnya digunakan untuk produksi dapat berpindah ke:
menentukan positioning,
membaca data,
memahami customer,
mengambil keputusan,
mengembangkan creative direction,
dan mengevaluasi hasil.
Karena itu, ukuran produktivitas masa depan mungkin bukan:
Berapa banyak orang yang bisa kita hilangkan dengan AI?
Tetapi:
Berapa banyak output yang bisa dihasilkan oleh tim yang sama dengan bantuan AI?
Dan ini mungkin menjadi competitive advantage berikutnya
Jika AI semakin mudah digunakan, maka AI sendiri perlahan menjadi commodity.
Perusahaan A bisa menggunakan ChatGPT.
Perusahaan B juga bisa.
Perusahaan C bisa menggunakan AI agents.
Kompetitor mereka juga bisa.
Maka keunggulan tidak lagi hanya berada pada siapa yang memiliki AI.
Keunggulan bisa berpindah kepada siapa yang memiliki:
data yang lebih baik, workflow yang lebih baik, orang yang lebih mampu mengambil keputusan, dan distribusi yang lebih kuat.
Meta mungkin sedang belajar bagian ini secara langsung.
Perusahaan tersebut memiliki akses ke AI, data, computing power, dan modal dalam skala yang hanya bisa dimiliki segelintir perusahaan teknologi.
Namun bahkan Meta tetap menemukan bahwa mengubah organisasi manusia menjadi organisasi yang jauh lebih otomatis bukan pekerjaan sederhana.
Jadi, apakah perusahaan harus berhenti mengejar AI?
Tidak.
Justru sebaliknya.
Kasus Meta menunjukkan bahwa perusahaan perlu lebih serius dalam mengintegrasikan AI, tetapi lebih hati-hati dalam menentukan apa yang harus diotomatisasi.
AI paling masuk akal ketika digunakan untuk:
mengurangi pekerjaan repetitif, mempercepat pengambilan keputusan, memperbesar kemampuan tim, dan membuka workflow yang sebelumnya terlalu mahal untuk dilakukan.
Bukan sekadar:
“Bagaimana kita mengurangi jumlah karyawan?”
Perbedaan dua pendekatan tersebut sangat besar.
Yang pertama adalah AI augmentation.
Yang kedua adalah AI replacement.
Dan pengalaman Meta menunjukkan bahwa keduanya menghasilkan konsekuensi organisasi yang sangat berbeda.
Masa depan pekerjaan mungkin bukan manusia vs AI
Cerita Meta sebenarnya memberikan pertanyaan yang lebih menarik.
Jika AI terus berkembang, perusahaan mungkin memang akan membutuhkan lebih sedikit orang untuk menghasilkan output yang sama.
Tetapi perusahaan juga akan membutuhkan orang dengan kemampuan yang berbeda.
Kemampuan untuk:
mengarahkan AI,
memeriksa output,
mengintegrasikan berbagai sistem,
memahami konteks bisnis,
mengambil keputusan,
dan bertanggung jawab atas hasil.
Dengan kata lain:
AI mungkin tidak membuat manusia tidak relevan.
AI membuat cara manusia menciptakan value menjadi berbeda.
Dan perusahaan yang paling siap bukan selalu perusahaan yang paling cepat mengganti manusia dengan AI.
Bisa jadi justru perusahaan yang paling cepat menemukan cara membuat manusia bekerja jauh lebih baik dengan AI.
FAQ
Apa itu Project OT Meta?
Project OT atau Organization Transformation adalah rencana restrukturisasi Meta pada 2026 untuk membangun organisasi yang lebih kecil dan lebih AI-native, termasuk penggunaan AI agents untuk mengambil alih sebagian pekerjaan rutin.
Apakah Meta benar-benar ingin mengganti karyawan dengan AI?
Meta merencanakan penggunaan AI untuk mengotomatisasi banyak pekerjaan dan mempertimbangkan pengurangan ukuran beberapa tim hingga 60%. Namun sebagian besar restrukturisasi lanjutan tersebut kemudian dibatalkan atau dikurangi.
Mengapa Meta membatalkan sebagian rencana AI-nya?
Menurut laporan Reuters, AI agents dan coding tools belum memberikan peningkatan produktivitas sesuai ekspektasi, sementara implementasinya juga menimbulkan persoalan keamanan, reliability, privasi, dan moral karyawan.
Apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia?
AI dapat mengotomatisasi tugas dan beberapa jenis pekerjaan, tetapi kasus Meta menunjukkan bahwa mengganti keseluruhan workflow manusia dengan AI jauh lebih kompleks daripada mengotomatisasi tugas individual.
Apa pelajaran Meta untuk bisnis lain?
Bisnis sebaiknya tidak memulai strategi AI dari pertanyaan “berapa banyak orang yang bisa digantikan?”. Pertanyaan yang lebih berguna adalah “bagian mana dari workflow yang dapat dibuat lebih cepat, murah, dan produktif dengan AI?”
Apakah Meta berhenti berinvestasi pada AI?
Tidak. Meta tetap melakukan investasi AI dalam skala sangat besar dan memperkirakan belanja lebih dari US$130 miliar untuk infrastruktur AI pada 2026. Yang berubah adalah pendekatan terhadap restrukturisasi tenaga kerja dan penerapan AI dalam organisasi.
Sumber utama: Reuters, “Mark Zuckerberg had a bold plan to replace Meta staff with AI. Here's how it imploded”, 26 Agustus 2026; Reuters, “How Meta's AI workforce transformation plans went kaput”, 26 Agustus 2026.
